PROF Dr dr I Wayan Wita SpJP, selama ini dikenal sebagai seorang akademisi. Selain menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud) dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini juga sempat menjabat Rektor Unud periode 2001-2005. Jabatannya saat ini sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikayan (Ikatan Alumni Universitas Udayana), menjadikan Wayan Wita cukup populer di kalangan masyarakat, khususnya Bali.
I Wayan Wita merupakan putra asli pulau Dewata, lahir di Badung 7 Desember 1948 dan selama 20 tahun mengenyam pendidikan di pulau Bali sampai akhirnya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana di tahun 1975. Meski kemudian melanjutkan program pasca sarjana di pulau Jawa tidak membuat ia lupa pada tempat kelahirannya. Seperti orang Bali pada umumnya, Ia mempunyai hubungan yang khas dan sangat kental dengan budaya dan masyarakat Bali.
Tak lama setelah mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Airlangga Surabaya, Wita kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa visi khusus untuk membangun Bali. Salah satunya adalah memajukan bidang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Termasuk pendidikan tradisional seperti pasraman maupun pendidikan yang berbasis IT.
Dalam pandangannya lembaga pendidikan tersebut harus diberikan pemahaman, apa yang harus dan bisa dilakukan tanpa melupakan realitas sekitarnya, `Hanya karena sekarang zaman modern, orang berlomba belajar IT, padahal tidak semua yang menyangkut IT bisa memberi faedah ke masyarakat,` ujarnya.
Kepeduliannya pada bidang pendidikan juga menjadi alasan bagi I Wayan WIta menerima tawaran untuk dipilih menjadi anggota BPA (Badan Perwakilan Anggota) Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 sejak 2001 lalu, mewakili pemegang polis Daerah Pemilihan X/Bali & Nusa Tenggara.
`Karena saya melihat asuransi mutual ini didirikan oleh tiga orang guru. Awalnya sempat ragu, namun setelah saya pelajari banyak produk asuransi untuk pendidikan, lalu bentuk perusahaan yang merupakan usaha bersama, saya lihat antara bisnis dan idealisme yang diusungnya bisa berjalan berdampingan,` ungkapnya.
Suami dari I Ketut Gading ini tidak perlu diragukan lagi konsistensinya dalam hal pendidikan dan kebudayaan di Bali. Penerima Udayana Award tahun 2006 ini melihat potensi besar dari sektor pariwisata dan kebudayaan Bali, namun ini dilihatnya masih mentah dan belum diolah, sehingga nilai ekonomisnya rendah, `Contohnya saja tari-tarian, jika dikemas dan dipoles secara eksklusif dalam suatu pagelaran maka nilai ekonomisnya bisa semakin tinggi,` ujarnya.
Anggota Dewan Komisaris AJB Bumiputera ini juga melihat peluang besar dari Bumiputera. Sebagai asuransi bangsa Indonesia yang dilandasi oleh kekeluargaan dan kebersamaan, serta asas gotong royong yang diusung sejak awal berdirinya, merupakan modal yang kuat untuk maju dan besar karena sesuai dengan karakter orang Indonesia. `Mungkin Bumiputera kalah di perkotaan, tapi di pedesaan Bumiputera masih menjadi asuransi pilihan rakyat,` imbuhnya.
Dewan Pengawas Rumah Sakit Sanglah Denpasar ini saat ini sedang mencalonkan diri menjadi Bupati Badung periode 2010-2015. Di antara kalangan akademisi dan birokrat Bali, Prof Wita dikenal sebagai orang yang konsisten dan demokratis, mempunyai kemampuan komunikasi yang andal serta jaringan yang luas.
Sehubungan dengan pencalonannya, I Wayan Wita memastikan tidak akan melakukan manuver politik yang bisa mencederai hubungan kekerabatan masyarakat Bali. `Bali harus dijaga oleh semua komponen tanpa terjebak dalam dikotomi sempit,` ujarnya. Prof Wita dinilai sebagai sosok yang mengerti dan memahami betul tiga pilar pembangunan, mulai dari sektor pendidikan dan sektor kesehatan yang notabene merupakan latar belakang akademisnya.
Prof Wita mempunyai ambisi pribadi untuk menjadikan Bali sebagai kota wisata intelektual, ia mengaku terinspirasi Jogjakarta yang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar. `Bayangkan jika workshop dan konferensi internasional dilakukan di Bali, setelah membahas masalah intelektual, mereka bisa rileks dibuai pesona Bali,` mimpinya.
Kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat tercerminkan dengan eksistensinya sebagai dewan komisaris di Bumiputera yang kepemilikan perusahaanya bersama-sama. Oleh karena itu I Wayan Wita merasa prihatin karena pemerintah belum sepenuhnya mendukung usaha bersama, apalagi menjadikan Bumiputera sebagai model perekonomian rakyat. `Minimal harus ada undang-undang yang mengatur perusahaan mutualis secara tersendiri,` ungkapnya.
Dalam keluarga Prof. Wita juga berhasil mendidik kedua anaknya sehingga mampu mengikuti langkahnya di bidang kedokteran. Ni Wayan Eka Ciptasari dan I Made Putra Swi Antara keduanya adalah dokter. Penulis buku `Cintailah Jantung Anda` ini sekarang menjabat sebagai Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu di RS Sanglah. Tidak hanya itu Prof Wita juga menjabat Ketua Bidang Sosial Budaya Pengurus Pusat Persatuan Hindu Dharma Indonesia periode 2006-2011. *** Edward.